HIV-Aids Sidoarjo Tembus 7.129 Kasus, Komisi D dan Dinkes Bertekad Tekan Kenaikan Secara Masif
Siarpos, Sidoarjo, Mengejutkan,Kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (Aids) di Sidoarjo mengalami kenaikan signifikan. Dalam kurun waktu 4 bulan terdeteksi sekitar 200 kasus baru HIV-AIDS di Sidoarjo, atau pada per Desember 2025 tercatat 6.914 meningkat menjadi 7.129 kasus per April 2026.
Angka HIV-Aids terungkap saat Komisi D DPRD Sidoarjo menggelar hearing dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, pada Kamis (4/6/2026) siang. Giat dengar pendapat (hearing) dipimpin ketua komisi H. M.Dhamroni Chudlori M.Si ini juga dihadiri pejabat Dinas Pendidikan Kab. Sidoarjo, Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Sidoarjo dan pengurus Paguyuban Remaja Peduli HIV-AIDS (Parpas) Sidoarjo.
Berbagai persoalan dibedah dalam hearing itu, termasuk langkah-langka pencegahan bersifat edukasi dan segala fenomenanya. Termasuk hambatan mendeteksi penderita di lapangan untuk mendapatkan data akurat. Sehingga angka penderita virus rentan membawa kematian yang terdeteksi saat ini dipastikan belum final, bahkan bisa jauh lebih besar.
Seperti fenomena gunus es,–jumlah kasus penderita OD HIV-AIDS yang terdeteksi hanya pada tataran permukaan saja. Artinya jumlah kasus yang terdeteksi atau dilaporkan jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah penderita yang sebenarnya di masyarakat. Ini disebabkan sebagian besar pengidap tidak sadar terinfeksi atau sengaja menyembunyikan statusnya.
Gus Dham, sapaan Ketua komisi D DPRD Sidoarjo mengungkapkan keprihatinan atas kenaikan penyandang HIV-Aids di Sidoarjo setiap tahunnya. “Ini memang menjadi problem tersendiri di Sidoarjo sebagai daerah penyangga Surabaya. Harus ada langkah-langkah lebih kongkret dan masif dalam pencegahan sekaligus penanggulangannya,” katanya. “Sidoarjo jangan sampai darurat HIV-Aids,” tambah Gus Dham.
Dalam hearing, Gus Dham didampingi beberapa anggota komisi, di antatanya H.Pujiono H.Sutadji,–keduanya dari fraksi PKB, lalu Hj Fitrotin Hasanah (PPP), Wahyu Lumaksoni (Golkar) dan Pratama Yudhiarto (Gerindra). Dia menambahkan, pentingnya pihak Dinkes melakukan deteksi di daerah-daerah rawan, seperti Porong dan Krian,–hasil deteksi dua wilayah itu paling besar menyumbang peningkatan penderita HIV-Aids.
Pihaknya juga mengapresiasi keberadaan Parpas yang melakukan edukasi kepada masyarakat atas penyakit menular melalui hubungan seks bebas dan tidak normal itu, sehingga dapat menekan penyeberannya.
“Langkah pencegahan harus ada sinergitas antara OPD terkait dengan berbagai lembaga masyarakat termasuk dengan remaja peduli Aids ini. Kita di komisi D akan terus mendorong rancangan aksi dari pemerintah daerah, terutama dalam pencegahan,” tuturnya. “Kami minta OPD juga mempunyai action plan yang komprehensif dengan maping dan skrining melibatkan berbagai komponen masyarakat,” tambah Gus Dham.
Sementara itu, dr HinuTrisulistijorini, sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo yang hadir dalam giat hearing itu mengakui ada berbagai kendala dalam melakukan deteksi penderita HIV-Aids. Sehingga angkanya belum final, bahkan diprediksi jumlah kasus OD HIV-Aids bisa dua kali lipat dari yang terdeteksi. “Ini memang sudah menjadi fenomena umum. Tanpa ada kesadaran mereka yang rentan HIV menjalani tes kesehatan, kami pun tentunya tidak bisa memaksa diri,” ujarnya.
Dikatakan, deteksi kenaikan jumlah penderitanya HIV ini diketahui dari hasil mobile visite yang dilakukan seluruh Puskesmas dan bekerja sama dengan Delta Crisis Center Sidoarjo.
“Memang ini seperti fenomena gunung es, yang mana baru diketahui adanya kenaikan setelah penderita HIV bersedia melakukan screening secara sukarelawan,” ujarnya.
Yang jelas, dokter Hinu mengatakan pihak Dinkes terus melakukan upaya masif dan agresif, untuk memberikan edukasi kepada masyarakat yang merupakan bagian dari program pencegahan penularan HIV-Aids. Pihaknya juga melalui skrining rutin terhadap populasi berisiko tinggi, sebagai langkah menekan peningkatan kasus tersebut.
Dalam penanggulangan HIV di Sidoarjo, lanjut dia, telah melibatkan berbagai pihak,–mulai dari sektor swasta, lembaga swadaya masyarakat (LSM), hingga layanan kesehatan swasta. Termasuk dibutuhkan peran serta Parpas ini, yang memberikan edukasi kepada masyarakat. “Termasuk pentingnya mengedukasi pelajar atas bahayanya HIV-Aids dan media penularannya,” tegas dokter Hinu. (Cak Sokran)












